<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d9101440001429477777\x26blogName\x3dAmirappm\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dTAN\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://amirappm.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3din\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://amirappm.blogspot.com/\x26vt\x3d-6198008404946862921', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
CHEERIO;
Posts
Profile
Link
Archives
Credits
+ follow
Bersembunyi
Sabtu, 22 Oktober 201121.02 | 0 comment(s)

Dia selalu menjadi tempat pertamaku bercerita. Dia selalu menjadi orang yang pertama mengusap air mataku. Dia selalu menjadi sosok pertama, tempatku berbagi tawa. Dialah Romi, sahabat terbaikku.

Seakan-akan aku tidak mempunyai siapapun selain dia. Yaaaah, sebut saja aku kuper. Memang begitulah keadaannya, aku memang tidak mempunyai banyak teman. Sebut saja aku anti sosial. Apapun namanya, yang penting ada Romi. Itu saja cukup. Aku tak peduli apa kata orang.

Di usiaku yang beranjak 17 tahun, aku hampir tidak mengenal cinta. Aku tidak tahu bagaimana rasanya cinta. Sehingga aku tidak pernah menyadarinya. Padahal cinta itu ada di sisiku setiap saat. Hanya saja aku yang terlalu bodoh untuk menyadarinya.

"Dindaaaaaaaaaa, coba tebak," kata Romi berseri-seri.

"Apa?" ucapku acuh-tak acuh sembari membalik-balikkan halaman buku.

Hening. Suasana di taman kota memang seperti ini pada musim kemarau. Sepi. Kebanyakan orang akan lebih memilih diam di dalam rumah mereka, ditiupkan oleh hembusan-hembusan racun dingin yang perlahan-lahan membuat bumi ini semakin hangus terbakar.

"Lihat niiiiiiiiiiiiih!"

Ia mengacungkan selembar kertas ke depan wajahku.

Mataku menelusuri huruf demi huruf pada kertas di hadapanku itu. Dapat kubaca dengan sangat jelas. Jelas sekali. Intinya, anak ini dapat beasiswa. Tiga tahun. German. Entahlah bagaimana mengungkapkan perasaanku. Tapi menurutku ini bukan hal yang baik--bagiku tentunya.

"Oh. Selamat," ucapku datar dan terus berakting membaca halaman buku yang sebenarnya tentu saja tidak kubaca, dan hanya menjadi tempat persembunyianku.

Rasa itu. Entahlah bagaimana dapat kujelaskan.

"Cuma gitu aja? Ini cita-citaku sejak dulu, Din!!!!" ucapnya girang lalu memelukku.

Kembali aku merasakan sesuatu merasukiku. Lagi-lagi percakapan monolog itu datang. Rasanya seperti bermain sinetron--si iblis dan malaikat berdebat di otakku:
I: "Ada apa sih dengan kamu, Dinda?"
A: "Romi memelukku!"
M: "Terus kenapa? Bukankah selama ini memang seperti ini?
A: "Tapi akhir-akhir ini aku merasakan sesuatu yang aneh."
I: "Jangan pedulikan, Din. Dia itu sahabtmu. Sahabatmu! Bahkan sudah kau anggap sebagai kakakmu! Apa mungkin kau jatuh cinta pada kakakmu?"

Mungkin kali ini si Iblis benar. Mungkin tidak seharusnya aku jatuh cinta pada Romi. Apalagi di saat-saat seperti ini.

"Iya aku tahu, Rom. You've got what you want. Finally. Congrats. Gonna miss you," ucapku datar--lagi.

"Kamu kok kayak nggak seneng sih, Din?" tanya Romi--masih memelukku.

Mungkin dia takkan pernah menyadarinya. Ia tidak akan pernah sadar di balik sikap acuh-tak acuh-ku sebenarnya aku peduli padanya. Sangat peduli. Tapi biarlah dia tidak tahu. Lebih baik tetap seperti ini.

Tetap seperti ini, hingga tiga tahun kemudian, ia memperkenalkan seorang wanita padaku. Ia perkenalkan wanita itu padaku, sebagai bagian dari hidupnya. Hingga saat itu, tetap seperti ini. Aku tetap bersembunyi. Hingga suatu saat nanti, akan tetap seperti ini--aku akan terus bersembunyi dan Romi tidak akan pernah tahu.



P.S: I use this picture just to show you how close Romi and Dinda, just like them who are on the picture.

(photo from tomkiddo @ www.lomography.com. Really sorry for using your photo. If you mind it, just tell me and I'll delete it :) )


Label: ,