<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d9101440001429477777\x26blogName\x3dAmirappm\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dTAN\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://amirappm.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3din\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://amirappm.blogspot.com/\x26vt\x3d-6198008404946862921', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
CHEERIO;
Posts
Profile
Link
Archives
Credits
+ follow
Buka Suara
Selasa, 28 Desember 201022.46 | 0 comment(s)

(posting blog yang rencananya saya post pada hari Kamis, 23 Desember 2010 pukul 08.30, tetapi koneksi pedot)

Hari ini bagi rapot. Pukul 09.00-12.00. Deg deg an memang. Tapi saya sudah tau gimana nilai rapot saya ntar walaupun saya belum lihat. Jelek pastinya. Bukan pesimis atau apa. Tapi saya sudah besar, kelas 10 umur 15 tahun (dalam sebulan kurang 16 tahun malah #sowhat) saya bisa memperkiraan. Tapi bukan perkiraan ala peramal atau dukun. Perkiraan secara hitungan dan feeling, karena selama setengah tahun ini ya saya yang menjalani.

Saya selalu punya motivasi untuk berubah. Tapi gak tau kenapa tidak pernah ada perubahan. Kadang saya ingin nyerah. Malah kadang nyerah bukan ingin lagi. Saya tau, mungkin kalau hari ini saya belum berhasil, mungkin besok atau besok nya atau besok nya atau suatu saat nanti. Karena saya selalu percaya Tuhan itu adil dan selalu membantu. Tuhan selalu memberikan yang terbaik.

Saya sebenarnya agak kecewa dengan pendidikan di Indonesia (kok gak nyambung --"). Iya, kenapa sih kepintaran seseorang cuma ditentukan sama nilai? Yang menilai saja bahkan tidak memperhitungkan bagaimana caranya para pelajar mendapatkan nilai tersebut. Sehingga semua orang berlomba-lomba meraih nilai itu dengan segala cara, bukan meraih ilmu. Selama ini pelajar Indonesia meraih NILAI bukan ILMU. Bukankah itu menjadi sia-sia?

Dan parahnya, nilai itu hanya ditentukan dengan bulatan-bulatan hitam ABCD di atas Lembar Jawaban Komputer yang mungkin, orang yang gak beruntung, jawabannya gak kebaca atau mungkin, orang yang beruntung (banget) ngasal-ngasalan tapi bener semua. Itu membuat perbedaan antara orang yang pintar dan orang yang beruntung menjadi sangat tipis.

Dan, beruntung itu menurut saya bersifat sementara ya. Kalau pintar kan bersifat tetap. Jadi, saya lebih senang dengan soal essay sebenarnya. Jawaban dalam soal essay lebih menunjukkan mana pelajar yang benar-benar mengerti pelajaran dan mana yang tidak. Terus yang berperan sebagai penilai itu bukan scanner tapi guru. Guru yang menilai. Guru yang menentukan dia layak atau tidak mendapat 'nilai' yang selama ini hanya berwujud angka-angka itu. Jadi guru bisa 'memperbaiki' yang masih belum mengerti dan mengajari sampai mengerti. Itulah guru.

Oh iya, saya kecewa juga dengan pendidikan Indonesia yang mewajibkan pelajar untuk menguasai semua jenis mata pelajaran. Heeeeey, semua manusia mempunyai kelebihannya masing-masing. Mungkin ada yang matematikanya pintar tapi sejarahnya belet terus dia terpaksa mengulang 1 tahun lagi hanya karena sejarah atau pelajaran-pelajaran yang tidak dia kuasai. Say a big NO WAY!

Saya gak suka nih yang begini. Aduh tolong ya. Saya ingat di soal ujian Bahasa Indonesia saya, ada soal essay tentang negara Finlandia yang tidak membebankan siswa dengan banyak PR, ujian, dan lain-lain. Waw itu cara bagus menurut saya. Siswa menjadi menyukai pelajaran, dan tidak ada lagi siswa-malas-sekolah.

Dan kalau Indonesia menjadi negara maju, saya ingin sekolah itu bukan menjadi kewajiban, tetapi kebutuhan. Agar setiap anak mengerti bahwa sekolah merupakan kunci meraih ilmu dan kesuksesan. Jadi bukan pemerintah yang ngejar-ngejar anak jalanan supaya sekolah. Kalau memang ingin maju, ya sekolah! Biar anak-anak nya saja yang mengejar-ngejar ilmu. Kalau mereka lebih suka ngamen dan minta-minta, ya selamanya mereka bakal menjadi seperti itu.

Oh iya, saya mau menambahkan, pintar itu bukan berarti dapat menghitung cepat atau jenius atau IQ tinggi atau yang selama ini orang-orang analogikan sebagai 'jenius'. Menurut saya pintar itu artinya mengerti. Orang pintar itu peduli dengan sekitarnya. Orang berilmu atau jenius atau apapun namanya belum tentu dia pintar. Tapi orang pintar itu pasti berilmu.

Pintar itu bukan kelebihan, karena Tuhan memberikan kepintaran yang sama terhadap semua orang. Pintar itu usaha dan bagaimana cara kita mengembangkan diri kita dalam kehidupan.

Oke, rada teu nyambung oge ya dari bagi rapot jadi protes2 gini hhh. sampe bawa2 finlandia sama ulangan b.indonesia --" gak apa2 deh ya. saya cuma buka suara. maaf kalau ada yang tersinggung.

diketik pada: Rabu, 23 Desember 2010, 08.30
tapi baru dipost: sekarang -_________________-

Label: , ,